Showing posts with label Terumbu Karang. Show all posts
Showing posts with label Terumbu Karang. Show all posts

Saturday, July 5, 2014

Wakatobi, Surganya Diving, Terumbu Karang dan Ikan

Pariwisata bahari adalah aktivitas wisata yang telah lama dikembangkan di Kepulauan Wakatobi, yang didukung dengan keberadaan Taman Laut Nasional Kepulauan Wakatobi. Keunggulan aset wisata ini, tidak lain karena hamparan karang yang sangat luas disepanjang perairan dengan topografi bawah laut yang kompleks seperti bentuk slope, flat, drop-off, atoll dan underwater cave dengan biota laut yang beraneka ragam.

Secara spesifik taman laut kepulauan Wakatobi memiliki ±25 buah gugusan terumbu karang dengan 750 species yang dikelilingi total 600 km2, serta objek wisata pantai yang sangat potensial sehingga sangat comfortable untuk aktivitas wisata selam seperti surfing dan snorkeling, serta wisata memancing. Sehingga salah seorang jurnalis selam asing bernama "Jacques Costeau" menggelari Wakatobi sebagai tempat penyelaman terindah di dunia (Wakatobi is the finest diving site in the world).

Survei WWF (2003), dengan ekstrapolasi indeks keragaman ikan Karang (Coral Fish Diversity Index, CFDI) menunjukkan bahwa di kepulauan Wakatobi terdapat sekitar 942 spesies ikan adalah satu subset dari pool spesies regional, walaupun sangat berbeda. Peringkat CFDI 284 menempatkan wilayah Wakatobi di kategori keanekaragaman hayati yang sama dengan Teluk Milne di Papua Nugini dan Komodo di Indonesia. Famili-famili yang paling beragam spesiesnya antara lain jenis-jenis wrase (Labridae), damsel (Pomacentridae), surgeon (Achanthuridae), kerapu (Serranidae), kepe-kepe (Chaetodontidae), kerapu (Serranidae), cardinal (Apogonidae), kakap (Lutjanidae), squirrel (Holocentridae), cardinal (Apogonidae).

Beautiful Wakatobi
Visit Wakatobi
Visit Indonesia
Wonderful Indonesia … … …

Thursday, June 5, 2014

Simbiosis Mutualisme Polip Karang dan Zooxanthellae (Pembentukan Terumbu Karang)

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir tropik, yang ditandai dengan keanekaragaman jenis biota tinggi yang hidup di dalamnya. Biota yang hidup di terumbu karang merupakan satu komunitas yang terdiri dari berbagai tingkatan trofik. Masing-masing komponen dalam komunitas ini saling tergantung satu sama lain, sehingga terumbu karang merupakan suatu ekosistem dengan struktur trofik yang lengkap. Sebagai suatu lingkungan hidup, ekosistem terumbu karang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, mencari makan dan berkembang biak dari biota-biota yang hidup berasosiasi dengan karang (Anonim 2007).  Terumbu karang dapat pula menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi yang penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, kerang mutiara dan sebagainya (Nontji 1987).

Terumbu karang adalah suatu ekosistem di dasar laut tropis yang terutama dibangun oleh biota laut penghasil kapur khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti mollusca, crustacea, echinodermata, polychaeta, porifera, tunicata dan biota lainnya yang hidup bebas di perairan sekitarnya termasuk jenis-jenis plankton dan ikan (Anonim 2008).

Ekosistem terumbu karang terbagi atas karang keras dan lunak. Karang batu adalah karang yang keras disebabkan oleh adanya zat kapur yang dihasilkan oleh hewan karang.  Melalui proses yang sangat lama, hewan karang yang kecil (polip) membentuk koloni karang yang kental, yang sebenarnya terdiri atas ribuan individu polip.  Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang.  Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan (Sondakh 2004).

Faktor-faktor fisika-kimia yang diketahui dapat mempengaruhi kehidupan dan/atau laju pertumbuhan karang, antara lain adalah suhu, kedalaman, cahaya matahari, salinitas, kekeruhan, substrat dan pergerakan massa air (Anonim, 2006a). Kondisi alam yang cocok untuk pertumbuhan karang diantaranya adalah pada perairan yang bertemperatur antara 18 – 30oC, kedalaman air kurang dari 50 meter, salinitas air laut 30 – 36 permil (‰), laju sedimentasi relatif rendah dengan perairan yang relatif jernih, pergerakan air/arus yang cukup, perairan yang bebas dari pencemaran, dan substrat yang keras (Sukrama  2001).

Dalam kehidupannya karang hermatifik berasosiasi dengan zooxanthellae (simbiosis mutualistik) yang menghasilkan bahan organik. Disamping itu karang juga memakan plankton untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Londo 2006).

Polip karang bersimbiosis dengan alga bersel tunggal (monocelluler), yang terdapat dalam jaringan endoderm karang. Alga ini termasuk dalam dinoflagellata marga symbiodinium yang mempunyai klorofil untuk proses fotosintesis. Alga ini dapat disebut sebagai zooxanthellae.  Zooxanthellae mendapatkan keuntungan karena mendapat tempat tinggal yang aman di dalam tubuh polip karang keras. Sedangkan polip karang keras mendapatkan keuntungan karena mendapatkan makanan dari hasil fotosintesis alga yaitu oksigen dan energi.  Hasil metabolisme makanan dari karang diambil zooxanthellae untuk proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari, kemudian hasilnya dimanfaatkan polip karang.  Dengan demikian keduanya saling ketergantungan dan tidak dapat bertahan hidup tanpa ada salah satunya (M’Boy 2013).  Zooxanthellae adalah salah satu penyusun karang yang paling penting. Tanpa peran zooxanthellae terumbu karang tidak akan terbentuk karena polip karang keras tidak akan dapat hidup tanpa zooxanthellae (Rifky 2008).

Di dalam jaringan hewan karang batu terdapat alga simbiotik (zooxanthellae) yang hidup dan bekerja sama yang saling menguntungkan (mutualistik) dengan hewan karang, dimana lewat proses fotosintesa alga tersebut - karang batu dapat bertumbuh dan menghasilkan kapur (kalsium karbonat) untuk pembentukan terumbu. Untuk melakukan fotosintesa zooxanthellae membutuhkan cahaya matahari, sehingga ekosistem ini hanya dapat berkembang di daerah yang beriklim panas dan mempunyai perairan yang jernih (Azhar 2003).  Terumbu karang dapat mentolerir suhu sekitar 36 - 40ÂșC (Nybakken 1992).  Randall (1983) mengemukakan bahwa suhu optimal untuk pertumbuhan karang berkisar antara 23 – 30oC, dan di bawah 18oC dapat menghambat pertumbuhan karang bahkan dapat menyebabkan kematian.

Mengenal Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas perairan pesisir tropik, yang ditandai dengan keanekaragaman jenis biota tinggi yang hidup di dalamnya. Biota yang hidup di terumbu karang merupakan satu komunitas yang terdiri dari berbagai tingkatan trofik. Masing-masing komponen dalam komunitas ini saling tergantung satu sama lain, sehingga terumbu karang merupakan suatu ekosistem dengan struktur trofik yang lengkap (M’Boy 2014). Sebagai suatu lingkungan hidup, ekosistem terumbu karang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, mencari makan dan berkembang biak dari biota-biota yang hidup berasosiasi dengan karang (Anonim 2007).  Terumbu karang dapat pula menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi yang penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang, kerang mutiara dan sebagainya (Nontji 1987).

Terumbu karang adalah suatu ekosistem di dasar laut tropis yang terutama dibangun oleh biota laut penghasil kapur khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti mollusca, crustacea, echinodermata, polychaeta, porifera, tunicata dan biota lainnya yang hidup bebas di perairan sekitarnya termasuk jenis-jenis plankton dan ikan (Anonim 2008a)

Ekosistem terumbu karang terbagi atas karang keras dan lunak. Karang batu adalah karang yang keras disebabkan oleh adanya zat kapur yang dihasilkan oleh hewan karang.  Melalui proses yang sangat lama, hewan karang yang kecil (polip) membentuk koloni karang yang kental, yang sebenarnya terdiri atas ribuan individu polip.  Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang.  Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan (Sondakh 2004).

Faktor-faktor fisika-kimia yang diketahui dapat mempengaruhi kehidupan dan/atau laju pertumbuhan karang, antara lain adalah suhu, kedalaman, cahaya matahari, salinitas, kekeruhan, substrat dan pergerakan massa air (Anonim 2006).

Kondisi alam yang cocok untuk pertumbuhan karang diantaranya adalah pada perairan yang bertemperatur antara 18 – 30oC, kedalaman air kurang dari 50 meter, salinitas air laut 30 – 36 per mil (‰), laju sedimentasi relatif rendah dengan perairan yang relatif jernih, pergerakan air/arus yang cukup, perairan yang bebas dari pencemaran, dan substrat yang keras (Sukrama  2001).

Dalam kehidupannya karang hermatifik berasosiasi dengan zooxanthellae (simbiosis mutualistik) yang menghasilkan bahan organik. Disamping itu karang juga memakan plankton untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Londo 2006).

Polip karang bersimbiosis dengan alga bersel tunggal (monocelluler), yang terdapat dalam jaringan endoderm karang. Alga ini termasuk dalam dinoflagellata marga symbiodinium yang mempunyai klorofil untuk proses fotosintesis. Alga ini dapat disebut sebagai zooxanthellae.  Zooxanthellae mendapatkan keuntungan karena mendapat tempat tinggal yang aman di dalam tubuh polip karang keras. Sedangkan polip karang keras mendapatkan keuntungan karena mendapatkan makanan dari hasil fotosintesis alga yaitu oksigen dan energi (M’Boy 2014).  Hasil metabolisme makanan dari karang diambil zooxanthellae untuk proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari, kemudian hasilnya dimanfaatkan polip karang.  Dengan demikian keduanya saling ketergantungan dan tidak dapat bertahan hidup tanpa ada salah satunya. Zooxanthellae adalah salah satu penyusun karang yang paling penting. Tanpa peran zooxanthellae terumbu karang tidak akan terbentuk karena polip karang keras tidak akan dapat hidup tanpa zooxanthellae (Rifky 2008).

Di dalam jaringan hewan karang batu terdapat alga simbiotik (zooxanthellae) yang hidup dan bekerja sama yang saling menguntungkan (mutualistik) dengan hewan karang, dimana lewat proses fotosintesa alga tersebut - karang batu dapat bertumbuh dan menghasilkan kapur (kalsium karbonat) untuk pembentukan terumbu. Untuk melakukan fotosintesa zooxanthellae membutuhkan cahaya matahari, sehingga ekosistem ini hanya dapat berkembang di daerah yang beriklim panas dan mempunyai perairan yang jernih (Azhar 2003).  Terumbu karang dapat mentolerir suhu sekitar 36 - 40ÂșC (Nybakken 1992).  Kemudian ditambahkan oleh Randall (1983) yang mengemukakan bahwa suhu optimal untuk pertumbuhan karang berkisar antara 23 – 30oC, dan di bawah 18ÂșC dapat menghambat pertumbuhan karang bahkan dapat menyebabkan kematian.

Secara umum kualitas perairan yang baik merupakan faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan karang lebih bagus, yang dicirikan dengan tingkat turbiditas dan sedimentasi yang lebih rendah. Meskipun tingkat kesuburan perairan tersebut lebih tinggi namun hal tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan karang. Dimana pertumbuhan turf alga dapat menghambat pertumbuhan karang, terutama karang yang tidak bercabang (Johan 2001).

Sekilas Tentang Transplantasi Karang

Transplantasi karang merupakan upaya pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam di tempat lain atau di tempat yang terumbu karangnya telah mengalami kerusakan dan bertujuan untuk pemulihan atau pembentukan terumbu karang alami (Anonim 2004).  Transplantasi karang berperan dalam mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak dan dapat pula dipakai untuk membangun daerah terumbu karang baru yang sebelumnya tidak ada (Harriott dan Fisk 1998 dalam Sadarun 1999), asal saja kebutuhan dasar untuk pertumbuhan karang (temperatur, salinitas, kandungan oksigen, pH dan kejernihan air laut yang sesuai) dapat dipenuhi (Fitriani 2007).

Transplantasi karang dapat dilakukan untuk berbagai tujuan yaitu untuk pemulihan kembali terumbu karang yang telah rusak; pemanfaatan terumbu karang secara lestari (perdagangan karang hias); perluasan terumbu karang; tujuan pariwisata; meningkatkan kepedulian masyarakat akan status terumbu karang; tujuan perikanan; membuat terumbu karang buatan; serta untuk tujuan penelitian (Anonim 2006).

Transplantasi karang adalah pemindahan sebagian dari suatu spesimen karang ke tempat lain, dengan menggunakan substrat buatan ataupun substrat yang telah ada di lokasi penanaman. Karang dapat dipindahkan dari suatu tempat dan ditransplantasikan pada substrat alami di daerah terumbu yang rusak (Lindahl 1998).  Tetapi dalam pelaksanaannya transplantasi harus memenuhi persyaratan bahwa kondisi tempat karang ditransplantasikan mempunyai kondisi lingkungan yang sama dengan habitat asalnya, seperti aliran air, kecerahan, temperatur dan sebagainya (Fitriani 2007).  Faktor-faktor kualitas air lainnya, seperti kecepatan arus, pH, O2 terlarut merupakan faktor pendukung dari pertumbuhan karang Acropora sp.